Jumat, 30 April 2010

PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI EDUKATOR DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 KECAMATAN BUNGURAN BARAT KABUPATEN NATUNA

SINOPSIS

PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI EDUKATOR DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 KECAMATAN BUNGURAN BARAT KABUPATEN NATUNA














Oleh:

KARNO ARIYANTO
NIM: 10713000139




MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU


2010



PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI EDUKATOR
DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 KECAMATAN BUNGURAN BARAT KABUPATEN NATUNA


A. Latar Belakang
Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa.
Pendidikan mempunyai peran penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan mempunyai pengaruh secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap menghadapi perubahan lingkungan kerja. Oleh karena itu tidak heran apabila negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat.
Pelaksanaan pendidikan di Indonesia pada umumnya dikelola oleh pihak pemerintah dan swasta. Lembaga pendidikan swasta yang berdiri selama ini biasanya berdasarkan atas kesadaran merasa bertanggungjawab terselenggaraannya pembangunan, khususnya dalam bidang pendidikan. Semuanya harus menanggung keseluruhan kebutuhan pendidikan tenaga pendidik, kebutuhan sehari-hari, sarana dan prasarana inventaris dan keuangan. Kelangsungan hidup lembaga pendidikan swasta adalah tanggungjawab dari semua pihak pengelolaan dan partisipasi masyarakat.
Lembaga pendidikan merupakan suatu yang terpenting dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, khususnya tujuan masyarakat terhadap pendidikan anak-anak mereka. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan dibina secara terus menerus. Di sinilah perlunya fungsi pengelolaan yang baik oleh pihak sekolah, khususnya kepala sekolah karena “manajemen atau pengelolaan adalah hal yang esensial pada semua kerjasama yang terorganisasi”. Dalam hal ini lembaga pendidikan Islam dipandang sebagai suatu organisasi atau kesatuan kerjasama yang melibatkan pengurus (Yayasan), pimpinan perguruan, majlis guru, pegawai dan siswa sebagai sasaran kegiatan lembaga. Menurut Arifin “Pendidikan dalam proses mencapai tujuannya perlu dikelola dalam suatu sistem terpadu dan serasi baik antara sektor pendidikan dan sektor pembangunan lainnya”. Di sinilah penting dan perlunya teknik dan prinsif manajemen. “Kalau prinsip dan teknik manajemen dapat dikembangkan, dibuktikan dan diterapkan, maka efisiensi manajerial akan lebih baik”.
Kepala Sekolah sebagai sosok pimpinan yang diharapkan dapat mewujudkan harapan bangsa. Oleh Karena itu diperlukan seorang Kepala Sekolah yang mempunyai wawasan ke depan dan kemampuan yang memadai dalam menggerakkan organisasi sekolah. Menurut Soebagio kepemimpinan pendidikan memerlukan perhatian yang utama, karena melalui kepemimpinan yang baik kita harapkan akan lahir tenaga-tenaga berkualitas dalam berbagai bidang sebagai pemikir, pekerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal yang terpenting bahwa melalui pendidikan kita menyiapkan tenaga-tenaga yang terampil, berkualitas, dan tenaga yang siap pakai memenuhi kebutuhan masyarakat bisnis dan industri serta masyarakat lainnya
Sebagai pendidik, kepala sekolah diharapkan mampu memberikan berbagai contoh keteladanan yang baik kepada guru, yaitu melalui sikap, prilaku, penampilan kerja maupun penampilan fisik. Peran kepala sekolah dalam kontek pendidik, dipandang sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam membentuk jiwa profesionalisme guru dan pada akhirnya bermuara pada terwujudkan tujuan pendidikan.
Menurut Wahjosumidjo sebagai seorang pendidik, Kepala Sekolah harus mampu menanamkan, memajukan, dan meningkatkan nilai mental, moral, fisik dan artistik kepada para guru atau tenaga fungsional yang lainnya, tenaga administrasi (staf) dan kelompok para siswa atau peserta didik. Untuk menanamkan peranannya ini Kepala Sekolah harus menunjukkan sikap persuasif dan keteladanan. Sikap persuasif dan keteladanan inilah yang akan mewarnai kepemimpinan termasuk didalamnya pembinaan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap guru yang ada di sekolah tersebut.
Kepala Sekolah sebagai edukator, supervisor, motivator yang harus melaksanakan pembinaan kepada para karyawan, dan para guru di sekolah yang dipimpinnya karena faktor manusia merupakan faktor sentral yang menentukan seluruh gerak aktivitas suatu organisasi, walau secanggih apapun teknologi yang digunakan tetap faktor manusia yang menentukannya. Dalam fungsinya sebagai penggerak para guru, Kepala Sekolah harus mampu menggerakkan guru agar kinerjanya menjadi meningkat karena guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan manusia yang berkualitas. Guru akan bekerja secara maksimum apabila didukung oleh beberapa faktor diantaranya adalah kepemimpinan Kepala Sekolah.
Dalam meningkatkan kinerjanya sebagai pendidik khususnya dalam peningkatan tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Mengikutsertakan guru-guru dalam penataran untuk menambah wawasan para guru. Kepala sekolah harus juga memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2. Kepala sekolah harus berusaha menggerakan evaluasi hasil belajar peserta didik untuk lebih giat bekerja, kemudian hasilnya diumumkan secara terbuka dan diperlihatkan dipapan pengumuman. Hal ini bermanfaat untuk memotivasi para peserta didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya.
3. Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah, dengan cara mendorong para guru memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan, serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran.
Kemampuan mengembangkan tenaga kependidikan terutama berkaitan dengan pemberian kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan secara teratur, revitalisasi musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), musyawarah guru pembimbing (MGP) dan kelompok kerja guru (KKG), diskusi seminar, loka karya, dan penyediaan sumber belajar dalam rangka pengembangan tenaga kependidikan, kepala sekolah juga harus memperhatikan kenaikan pangkat dan jabatannya.
Menjadi guru tanpa motivasi kerja akan cepat merasa jenuh karena tidak adanya unsur pendorong. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya gairah kerja guru, agar guru mau bekerja keras dengan menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Guru menjadi seorang pendidik karena adanya motivasi untuk mendidik. Bila tidak punya motivasi maka ia tidak akan berhasil untuk mendidik atau jika dia mengajar karena terpaksa saja karena tidak kemauan yang berasal dari dalam diri guru.
Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran barat ini berawal dari sebuah Yayasan Pendidikan Islam Ibnu Khaldun Kecamatan Bunguran Barat yang telah berdiri sekitar 18 tahun yang lalu, artinya telah terjadi beberapa kali pergantian kepala sekolah sehingga banyak pula pengalaman yang didapat dalam hal peranan kepala sekolah sebagai pendidik di sebuah lembaga pendidikan, dan seharusnya semakin lama akan semakin baik pula peranan sebagai pendidik di Madrasah Aliyah yang dapat tercermin dari peningkatan kualitas Madrasah Aliyah Negeri 1 itu sendiri, sehingga ia akan dapat menjadi basis terdepan untuk mengantisipasi secara dini dampak negatif dari pengembangan Kabupaten Natuna nantinya, dengan pembekalan ilmu-ilmu agama dan keterampilan di bidang penguasaan teknologi bagi para siswanya.
Kenyataannya adalah sebagai seorang pendidik kepala sekolah masih kurang memahami peranannya sebagai pendidik yang baik. Hal itu dapat dari gejala-gejala sebagai berikut;
1. Masih banyaknya guru-guru yang datang terlambat ke sekolah.
2. Masih adanya guru-guru yang keluar kelas ketika jam mengajar.
3. Masih adanya guru yang berpakaian kurang rapi (tidak sopan).
4. Masih adanya staf yang bekerja bukan pada bidangnya.
5. Masih adanya guru yang tidak menggunakan jam mengajar disecara efektif.
6. Masih adanya guru yang malas datang ke sekolah.
7. Kurangnya profesionalisme guru dalam mengajar.
8. Kurangnya minat mahasiswa untuk mengikuti pelajaran.
9. masih terdapat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.
Berdasarkan gejala-gejala di atas, yang menunjukkan adanya kecendrungan peranan Kepala Sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 masih tergolong belum baik. Atas alasan itu penulis tertarik untuk meneliti masalah ini dengan judul: Pernan Kepala Sekolah Sebagai Edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.

B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
a. Peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
c. Kesadaran kepala sekolah dalam peranannya sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna..
d. Upaya kepala sekolah dalam melaksanakan peranannya sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna..
e. Kesiapan kepala sekolah dalam peranannya sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
2. Batasan Masalah
Sehubungan dengan banyaknya permasalahan yang timbul dalam penelitian ini, maka penulis perlu membatasi masalahnya. Hal ini dimaksudkan agar pembahasannya mengenai sasaran dan tidak mengambang. Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah tentang Pernan Kepala Sekolah Sebagai Edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
b. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.


C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
2. Kegunaan Penelitian
a. Sebagai masukan bagi kepala sekolah MAN 1 Kecamatan Bunguran Barat dalam peranannya sebagai edukator dalam menjaga nama baik sekolah yang ia pimpin.
b. Untuk memberikan motivasi kepada guru-guru dalam menjalankan kewajiban msing-mansing
c. Untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis tentang Manajemen Pendidikan Islam sesuai dengan jurusan penulis di UIN Suska Riau
d. Sebagai sumbangan penulis kepada fakultas tarbiyah dan keguruan UIN suska riau yang merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaiakan program S1 pada jurusan kependidikan islam prodi Manajemen Pendidikan Islam


D. Metode Penelitian
1. Waktu dan Lokasi Penilitian
Penelitian ini dilakukan setelah seminar proposal penelitian dan lokasi penelitian dilaksanakan di MAN 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna
2. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitiannya adalah kepala sekolah MAN 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna. Sedangkan yang menjadi objek penelitiannya adalah peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
3. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah kepala sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan teknik sebagai berikut:
a. Observasi
Penulis melakukan pengamatan langsung kelapangan untuk mengetahui sejauh mana peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.

b. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mengadakan pertanyaan kepada kepala sekolah MAN 1 Kecamatan Bunguran Barat guna mendapatkan data tentang peranannya sebagai edukator di MAN 1 Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna.
c. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan dam bahan-bahan yang relevan dengan objek penelitian
5. Teknink Analisis Data
Taknik analisis data yang digunakan dalah menggunakan analisis deskriptif kulaitatif yang diproses dengan prosentase. Caranya adalah apabila data telah terkumpul, lalu dikalsifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data yang bersifat kualitatif yang dinyatakan bukan dalam bentuk angka atau digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, sedangkan data kuantitatif adalah data yang digunakan dalam bentuk angka kemudian diprosentasikan dan dirumuskan.
Adapaun teknik analisa data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang diproses dengan prosentase. Dengan rumus:
P
Dengan keterangan:
P = Prosentase
F = Frekuensi Responden
N = Total Jumlah
Standar yang penulis gunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan ke alam kategori baik, cukup, kurang baik. Baik dan kurang baiknya peranan kepala sekolah sebagai edukator di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kecamatan Bunguran Barat ditentukan dengan prosentase sebagai berikut:
76% - 100% = Baik
56% - 75% = Cukup
00%- 55% = Kurang Baik
Apabila hasil dari total keseluruhan 76 – 100% maka hasil ini dikategorikan baik, apabila 56 – 75% maka hasilnya dikategorikan cukup, dan apabila hasilnya kurang dari 55% maka hasilnya belum optinal.






DAFTAR PUSTAKA


Hartono, (2004). Statistik Untuk Pendidikan, Pekanbaru: LSFK2P.

Harold Koontz dkk, (1984), Manajemen (jilit 1), Jakarta: Erlangga.

M. Arifin, (2003). Kafita Selekta Pendidikan, Edisi Revisi, Jakarta: Bumi Aksara.

Nanang Fattah, (2002). Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung: PT Rineka Rosdakarya.

Soebagio Atmadiwiryo, (2000). Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Ardadirya.

Suharsimi Arikunto, (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.

Undang-undang RI No. 20 thn. 2003, (2005). Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Fokus Media.

Wahjosumidjo, (2002). Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Winardi, (2001). Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar